Demokrasi Telanjang … emang ada?
Maret 31, 2010
Judul Asli: Demokrasi dan Baju Baru Sang Raja
oleh gilang afkara
Alkisah hiduplah seorang Raja. Pada suatu hari, Raja itu ingin memiliki baju baru untuk dia pakai dalam pawai rutin di tengah kota yang biasa dia lakukan. Raja pun menyuruh ajudannya untuk memanggil penjahit yang paling hebat. Singkat cerita datanglah seorang penipu yang mengaku penjahit hebat dan akan menjahitkan baju yang sangat luar biasa indah dan tiada duanya untuk sang Raja. Dia pun berlagak mengukur badan sang Raja, mengukur tingginya, lingkar perutnya, lebar bahunya, dan lain-lain. Setelah itu dia pun itu mohon diri dan menjanjikan baju itu akan siap esok lusa.

Hari yang ditunggu pun tiba, Raja tidak sabar untuk melihat dan mencoba baju barunya, namun alangkah kecewanya ketika penjahit itu datang dan tidak terlihat membawa apapun. “Wahai penjahit, mana baju baru yang kau janjikan untukku?” Tanya Raja gusar. Penjahit itu pun buru-buru berpura-pura mengeluarkan sesuatu, “Mohon maaf Paduka, inilah baju terbaik yang saya kerjakan untuk Paduka.” Dia pun mengulurkan kedua tangannya seolah-olah sedang mempersembahkan sesuatu. Raja pun mengernyitkan keningnya karena dia merasa tidak melihat apa-apa, begitu pula para ajudan yang mendampingi Raja. Ppenjahit gadungan itu pun melanjutkan, “Tidakkah Paduka bisa melihat keindahannya? Baju ini teramat istimewa sebab hanya orang pintar saja yang dapat melihatnya!”
Raja telanjang
Raja yang langsung termakan bualan penipu itu merasa sangat malu karena ia benar-benar tidak melihat baju yang dimaksud. Raja pun berpikir betapa memalukannya bila ia ketahuan tak dapat melihat baju itu, dengan serta merta Raja pun menyahut, “Oh, betul sekali, betapa indahnya baju yang sudah kau buat ini, aku sungguh-sungguh menyukainya, bagaimana dengan kalian?” Raja meminta persetujuan para ajudan. Para ajudan yang rupanya sama dengan Raja segera menjawab, “Oh, benar sekali Paduka, baju itu memang sangat indah!” Mereka kemudian berlomba-lomba memuji baju bualan itu, “Warnanya sungguh indah, tidak terlalu mencolok namun sangat berkarakter…”, Seorang lagi menimpali, “Lihat jahitannya, sangat rapi dan solid!”, seorang lagi tidak mau kalah, “Modelnya sangat orisinil dan berwibawa, Raja akan terlihat sangat gagah memakainya!” Begitulah, kemudian ketika dikabari mengenai baju baru Sang Raja, seisi kerajaan pun berlomba-lomba berkomentar dan memberikan pujian mengenai baju itu, tidak ada yang berani mengakui tidak bisa melihat baju itu karena takut disangka bodoh.
***
Cerita di atas mungkin sudah akrab di telinga kita. Dongeng masa kecil ini terlintas begitu saja dalam ingatan ketika membaca satu kata : Demokrasi. Apa hubungannya demokrasi dengan dongeng tadi?
Demokrasi tidak ada bedanya dengan baju baru Sang Raja. Demokrasi, seperti halnya baju baru Raja, adalah omong kosong. Barangkali menyadari ‘keberadaan’ sesuatu lebih mudah ketimbang menyadari ‘ketidakberadaan’ sesuatu?
Dua belas revolusi embun
Maret 29, 2010
Sobekan catatan
Perjuangan tak pernah usang
Pergerakan tak pernah berhenti
Hanya surga tempat pemberhentian terakhir
-budi saputra-
-konseptor badaiotak-
Assalamualaikum wr wb
Dua belas angka yang menjadi akhir perhitungan tahun. Akhir dari tahun. Yang setahuku semua penanggalan jumlahnya segitu.
Perubahan adalah sebuah ketidaknyamanan, itulah salah satu tandanya. Semakin kita merasa tidak nyaman artinya terjadi perubahan yang besar. Revolusi adalah perubahan mendasar yang bagi kebanyakan orang yang mengalaminya akan merasakan sebuah ketidaknyamanan. Baru setalh tahu lebih baik dia bersyukur.
Embun menjadi penanda datangnya pagi. Jernih warnanya. Hari baru bagi dunia, bagi kehidupan.
Itu sedikit yang bisa dijelaskan dari judulnya yang menjadi judul badaiotak kali ini. Kita telah sampai pada edisi terakhir dari volume awal badaiotak. Jika dirunut dari terbit pertamakali badaiotak, 31 januari 2008, edisi ini sudah terlambat 6 bulan dari jadwal yang seharusnya.
Cita-cita kita sederhana sejak kita nemuin majalah mini yang diberi judul openmind. Membuat impian pembuatnya terkabul, mengkudetanya ! Dimulailah cerita pendakian cita-cita itu… assalamulaikum mas Ali.
…dulu kala, kakaknya badaiotak namanya mini7vana, bisa dibaca mini tujuh vana alias tujuh surga kecil, sesuai dengan konsepnya yang hanya untuk 7 terbitan. Ngucapinnya bisa juga minirvana. Waktu itu masih foto kopian, kovernya juga hanya dengan kertas yang lebih tebal. Judul besarnya ‘Jangan Sadarin Cewek!’. Majalah dengan 3 rubrik aja, kalau tidak salah berarti benar, pengantar redaksi, jzk, dan artikel panjang yang kelak kita terbitin jadi buku sendiri yaitu Jangan Sadarin Cewek. Eh, sebelumnya kita udah bikin versi percobaannya dulu. Dibagiin gratis di pasar pagi hari minggu, sunmor, di kampus paling besar di kota pendidikan. Target para cewek yang lagi sama pasanganya, harapannya bakalan bubar jalan! Haha… Cowok-cowoknya pada rada mandang aneh ceweknya sumringah ngeliat judulnya. Dibagiin juga ke komunitas penulisan. Dapat respon di kala nelangsa bikin kita semangat lagi! Maka semakin panjanglah tulisan awal itu.
Kerudunger vs Jilbaber vs Akhwat
Maret 17, 2010

Akhwat Belum Tentu Muslimah!
Oleh –chio-
Uah, jangan buru-buru protes dulu. Simpan bentar protesnya. Baru baca judulnya aja, kan? Apalagi baca isinya ntar, hehe… Jangan tiru orang kebanyakan yang sekadar ngeliat sesuatu dari kulitnya aja. Lihatlah lebih dalam kawan. Seperti milih buahan. Kamu mesti mau kalau dikasi makan durian, padahal kalau cuma dilihat dari luar aja, durian itu nggak ada menarik-menariknya, kecuali buat ngelempar para mafia di Senayan yang lagi tidur biar bangun. Sialnya kalau mereka bangun, mereka cuman pandainya ngasilin UUD dengan kepanjangan Ujung-Ujungnya Duit. Benar-benar nggak menarik, masalahnya yang disedotnya duit kita! Halus banget nyedotnya, pakai peraturan. Tinggal kita yang lemas terengah-engah keabisan darah.
Dulu ketika aku SMA, anak-anak perempuan bakalan risih kalau guru agama mulai nyebut-nyebut soal jilbab, saat itu dibilang jilbab, yang sekarang bagiku bukan jilbab tapi kerudung. Merasa disindir secara telak. Meskipun mereka merasa mempunyai alasan sakti: belum dapat hidayah alias belum dapat petunjuk untuk mengenakannya. Alasan yang nggak logis sebenarnya, karena ketika menjelaskan tentang jilbab yang kerudung itu, guru agama akan mengutip ayat Al-Qur’an. Dan itulah petunjuk nyatanya. Aneh kalau begitu mendengar petunjuk malah bilang belum mendapatkannya! Seperti orang yang dberi makanan tapi masih aja bilang belum dapat makanan.
Jangan Sadarin Jilbaber!
Maret 17, 2010
Prelude dari penulisnya
Jangan Sadarin Jilbaber!

Kita berbincang tentang para perempuan yang memeluk agama Islam. Bagaimana keadaan mereka kini. Mulai dari istilah-istilah yang akhirnya terpaksa lahir untuk menyebut banyak ragam penampakan mereka secera fisik. Satu sisi, ada yang tidak enak disebut selain dengan istilah yang sengaja disandangkan kepada dirinya, pun begitu juga yang lain. Inilah kisah di sebuah negeri, sebuah kisah untukmu, kisah tentang kita, kawan.
Berikut Resensi Buku JSJ oleh Ummu adillah …
Jangan Sadarin yang nulis JSJ
Praaang….. pecah berkeping-keping rasanya cermin kesempurnaaan diri yang berusaha kita bangun (bukan kesempurnaan tapi mendekati kesempurnaan lebih tepatnya coz nobody’s perfect, isn’t it). sadar betul bahwa kita para jilbaber (terlepas dari definisi yang ditulis oleh pengarang di bukunya tapi yang jelas definisi pasti dalam Qs. Al Ahzab:59) adalah representasi dari umat, cerminan umat, masyarakat yang ada disekitarnya, kitalah yang merwarnai mereka, keberadaan kita harus memberikan efek positif pada mereka. pukulan telak memang apa yang ditulis di JSJ rasanya g ada yang benar di mata penulis buku trilogy JS yang udah terbit (jangan sadarin cewek, jangan sadarin cowok, en yang teranyar jangan sadrin jilbaber), kira2 siapa lagi yang akan “dibuat merasa bersalah” oleh penulis ini, siap-siap aja ya bagi yang merasa belum jadi korbannya..hehe…
Balik lagi ngomongin soal JSJ, buku satu ini bisa dimasukkan dalam daftar buku fenomenal di kalangan jilbaber tentunya sampai menghantarkan kita pada sebuah diskusi kecil di kamar kos, kita bikin acara bedah buku JSJ sendiri nih ceritanya. Yang bedah bukunya? Ya kita-kita sendirilah J. Dalam bukunya ditulis jangan pakai jaket, kita menyimpulkannya sih kalo kita ada diluar harus pake jaket biar lebih “terlindung” tapi kata seorang teman yang ada disitu “di al Quran tu ditulisnya khimar untuk melindungi kita bukan jaket”, ada sebagian yang mendukung argument teman tersebut. Beberapa saat kemudian salah seorang teman meninggalkan forum itu, ada acara diluar dan dy akhirnya pakai jaket, kalo g pake jaket ntar dimarahin chio, katanya dengan setengah bercanda ( padahal dy td g setuju soal jaket itu). Trus ada pembahasan yang bikin salah satu teman merasa dibawah tekanan, dy merasa sangat bersalah sekali waktu baca soal warna, motif jilbab yang kita pakai dan hubungannya dengan pandangan para ikhwan. Sampai esok harinyapun dy masih merasa ga tenang, udah terlanjur beli kain denan warna menyala plus penuh motif katanya. Cuma bisa ngasih saran k dy, kalo pas bikin jilbabnya kain yang motifnya penuh ditaru di bagian atas soalnya nanti bisa ditutupin pake khimar en jangan dipake pas kuliah, pokoknya meminimalisir pemakaiannya ato lebih baik lagi kalo ga kainnya ga usah dipake buat jilbab. Setelah itu JSJ jadi bahan saling mengingatkan diantara kita. Tapi akhirnya ada yang complain ke ana, dikit2 JSJ katanyaJ.
Setelah mencermati sebagian isi JSJ muncul pertanyaan dalam benak kita, bagaimana penulis buku JSJ bisa sampai berfikir seperti itu, apakah dy menulis apa yang benar2 dy indra dan dy alami, kalo benar begitu menakutkan sekali penulis buku ini, dy ikhwan khan?! Munculnya pemikiran karena adanya informasi awal yang diterima oleh seseorang. Ditakutkan akhirnya buku JSJ ini akan jadi informasi awal bagi ikhwan yang membacanya, merangsang mereka memikirkan dan membayangkan apa yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan olehnya. Kalo ternyata pola pikrnya sama seperti yang tertulis di buku, watch out! Tapi bisa juga sih kita ambil ibrohnya kalo keadaanya benar2 seperti itu kita bisa jadi lebih hati2 berada di luaran, menjaga keifahan kita, pokoknya jilbaberpun belum aman dari pandangan liar para “ikhwan” . So far JSJ telah memberikan koreksi, evaluasi besar pada diri…. Sadis memang tapi terasa manis pada akhirnya. Tetap semangat om! Afwan wa jazakallah..
Nb:
untuk para jilbaber, hati2 kalo ketemu sama penulis buku JSJ. Kita ga tau dy sedang mikirin apa waktu ketemu en melihat kita, jangan2 sama kaya yang dy tulis dalam bukunya…TAKUT!!!!!!!!!!!
- di depan computer, 090909 -
Ummu adillah
Cewek-Cewek Komoditas Made in Kapitalis
Maret 14, 2010
Cewek Komoditas
Olah –chio-

Cewek adalah sesosok makhluk yang sangat unik. Dia enak dilihat oleh sesama cewek, dan lebih menarik lagi oleh para cowok. Ini suatu unsur yang bagi seorang kapitalis merupakan unsur yang memenuhi untuk menjadikan sesuatu itu komoditas yang layak diperjualbelikan. Menarik perhatian orang. Itu suatu hal yang penting untuk barang jualan. Pembeli tentunya harus dibuat tertarik pada pandangan pertama, untuk selanjutnya mengenal bahkan membeli barang yang di dagangkan.
Nah, gimana bisa para kapitalis ini menjadikan makhluk lembut dan seharusnya terhormat ini menjadi komoditas? Ada beberapa unsur yang mendukung itu.
Tempat busuk yang berkesan mewah dan eksklusif.
Kesenangan semu yang semuanya memang sangat menggiurkan. Membayar mahal, agar mereka yang masuk ke tempat busuk ini merasa mempunyai gengsi yang tinggi. Karena untuk minum minuman busuk aja mereka mesti bayar mahal. Mahal karena harus membayar untuk mendapatkan apa yang disebut dengan legal dari pemerintah rusak setempat. Tempat-tempat busuk seperti inikan punya dekingan manusia-manusia bejad berkedudukan biar bisa terus berdiri.
Tahu sendiri tempat-tempat busuk seperti ini makin menggurita aja, apalagi di kota-kota yang padat dengan mahasiswa. Mahasiswa-mahasiswa sekarang kan kaya-kaya dan bego-bego kebanyakan, oportunis pula-cari senang dan aman aja, tahunya kuliah yang baik-dalam pandangan kepitalisme sekarang yaitu untuk menjadi kuli cerdas tanpa emosi. Anak orang kaya yang merasa udah sok berkuasa, dibantu kiriman orangtua yang cukup -cukup buat beli rumah, foya-foya, dan mabuk-mabukan. Orang tua yang jauh dan merasa udah hebat nguliahin anaknya jauh-jauh dan di Universitas terkenal pula- padahal sekarang bobrok juga. Terlebih merasa hebat kaya karena mampu membayar uang masuk yang menakjubkan, saking mahalnya. Yang kalau dikasiin ke majalah mini ini, bisa bikin dari kover depan sampai belakang warna semua buat puluhan edisi! Artinya mungkin ratusan? Eh, tapi kalau nggak halal mah nggak usah aja deh, bikin kami tercemari sampah aja. Dan tertutama mahasiswa tak beragama yang merasa beragama-tertera di ktp lho, tapi ogah dibilang agnostik –cuma percaya tuhan a,.
Tempat busuk inilah yang berfungsi menjadi etalase sekaligus kamar pas komoditas berjudul cewek murahan nan bego’. Kalau mau secara halusnya cewek murahan yang dengan nafsu besar dan pelacur tanpa bayaran. Pelacur aja sekarang dihaluskan menajdi pekerja seks komersil, memang hebat para petinggi di negeri ini dalam ‘membersihkan’ noda hitam yang seharusnya benaran dibersihkan. Soalnya mereka dapat jatah juga sih, ya dari pelacur yang di peralat itu, besarkan sogokan buat melegalitas tempat-tempat lokalisasi itu. pelegalan pelacuran, lokasinya, hasil pemikiran yang ‘sangat cemerlang’ tuh, melokalisir kejatahan, gitu katanya.
Nggak tahu mungut otak udang dari mana mereka-mereka itu. Perasan yang ada di kepala udang itu taik deh, tapi ternyata mereka suka menggunakannya. Eh bukan otak udang tahu, tapi babi! Makanya mereka mirip babi kelakuannya, rakus dan nggak punya malu, apalagi cemburu. Atau mungkin otak tikus, solnya kalau kelakuan mereka ketahuan, yang jadi pengganti gambar mereka gambar tikus.
